Subscribe

Archive for November, 2007

Di Tengah Peta Perdagangan Dunia

November 25, 2007 By: Ikon Bali Category: Apa Saja, Dokumentasi, Kampanye, Penyadaran

Sumber Kompas (24/11/2007)

Oleh Windoro Adi dan Iwan Santoso

Dari dalam penjara seperti LP Salemba, Jakarta, para narapidana kasus narkoba justru semakin mudah memperoleh barang-barang terlarang, seperti sabu. Sulit dipercaya dan dicerna akal sehat, tetapi itulah kenyataan yang diakui para pengguna, pengedar, dan pihak kepolisian.

Aneh, tetapi nyata! Barangkali itulah ungkapan paling pas untuk menggambarkan situasi terkini peredaran narkoba di Tanah Air. Tak heran apabila tiga tahun lalu Indonesia belum dikenal sebagai pasar utama, tetapi sejak tahun 2005 Indonesia sudah masuk dalam tiga besar peredaran narkoba—terutama jenis sabu (crystal methamphetamine)—dunia, bersama China dan Amerika Serikat.

Meski beberapa kali diberitakan bahwa polisi menggerebek pabrik ekstasi dan membongkar tempat pembuatan sabu dalam skala besar, peredaran narkoba tak pernah surut. Sejumlah pengguna telah diciduk, para pengedar pun dijebloskan ke penjara, dan puluhan di antaranya telah divonis hukuman mati, tetapi bisnis ilegal ini dari hari ke hari justru meningkat.

(more…)

Narkoba, AIDS, dan Kita

November 25, 2007 By: Ikon Bali Category: Dokumentasi, HIV/AIDS, Penyadaran

Sumber Kompas (24/11/2007)

Oleh EVY RACHMAWATI

Situasi epidemi HIV di Tanah Air kian mencemaskan. Menurut laporan tahunan terbaru dari Badan Dunia untuk Penanggulangan HIV/AIDS atau UNAIDS, Indonesia kini berada di urutan nomor satu di antara negara-negara Asia terkait dengan tingkat kecepatan laju epidemi HIV.

Saat ini di kawasan Asia diperkirakan 4,9 juta orang hidup dengan HIV/AIDS, termasuk 440.000 kasus baru pada tahun lalu. Sekitar 300.000 orang meninggal akibat berbagai penyakit terkait AIDS. Asia Tenggara sendiri memiliki tingkat prevalensi tertinggi di Asia, dengan luas wilayah endemis bervariasi antarnegara.

Ketika epidemi di Kamboja, Myanmar, dan Thailand menunjukkan penurunan prevalensi HIV, di Indonesia dan Vietnam justru meningkat pesat. Mayoritas kasus infeksi baru di Indonesia dan Vietnam disebabkan pemakaian narkotika, psikotropika, dan zat-zat adiktif lainnya (napza), terutama penggunaan jarum suntik injecting drug use (IDU), dan hubungan seks tidak aman.

Dalam sepuluh tahun terakhir, peningkatan kasus HIV di Indonesia sungguh mencengangkan. Jika tahun 1998 jumlah kumulatif kasus HIV baru 591 orang, pada September 2007 jumlahnya telah mencapai 5.904 orang. Sejak Januari hingga September 2007 saja, jumlah kasus infeksi baru HIV mencapai 674 orang.

Kondisi ini seiring dengan laju epidemi AIDS. Jika tahun 1998 jumlah kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan 258 orang, pada September 2007 jumlahnya telah meningkat jadi 10.384 orang dengan prevalensi 4,57 persen. Cara penularan kasus AIDS melalui IDU 49,5 persen dan hubungan seks tidak aman 46 persen.

Napza
Sejauh ini epidemi HIV/AIDS di Tanah Air masih terkonsentrasi pada populasi risiko tinggi. Kini sumbangan terbesar dalam penularan HIV/AIDS telah bergeser dari hubungan seks tidak aman ke pemakaian napza (populer dengan sebutan narkoba) dengan jarum suntik. Peningkatan kasus penularan virus itu melalui narkoba suntik mulai terlihat sejak tahun 1999.

Departemen Kesehatan menyebutkan, jumlah pengguna narkoba suntik di Indonesia pada tahun 2006 diperkirakan 190.000 hingga 247.000 orang. Sementara estimasi prevalensi HIV pada pengguna narkoba suntik mencapai 41,6 persen dan ditemukan di tiap provinsi. Secara nasional, dari kasus AIDS yang terlaporkan secara kumulatif, 49,5 persen di antaranya adalah pengguna narkoba suntik.

Bahkan, di wilayah Provinsi DKI Jakarta, 72 persen dari total jumlah kumulatif kasus AIDS adalah pengguna narkoba suntik. “Usia pengguna napza suntik cenderung makin muda sehingga mereka akan terinfeksi HIV lebih awal dan sulit dijangkau,” kata Nafsiah Mboi, Sekretaris Komisi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS.

Para pengguna narkoba suntik di lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) juga meningkat pesat serta rata-rata 20 persen terinfeksi HIV. Akibatnya, angka kematian penghuni lapas atau rutan pada tahun 2005 meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Para pengguna narkoba suntik yang terinfeksi HIV di lapas atau rutan selama ini kesulitan mengakses pelayanan kesehatan.

Tingginya angka infeksi HIV di kalangan pengguna narkoba terutama disebabkan perilaku mereka amat berisiko. Salah satunya, masih meluasnya praktik berbagi jarum suntik di kalangan IDU. Di Indonesia, yang populer dikonsumsi adalah narkoba suntikan berupa heroin atau putau. Konon karena efeknya lebih cepat dan murah dibandingkan dengan yang nonsuntikan.

Di sisi lain, pengetahuan pentingnya sterilisasi jarum suntik sangat rendah. Menurut penelitian Budi Utomo, guru besar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), di kalangan remaja pengguna narkoba suntik umumnya satu jarum suntik dipakai dua sampai 18 orang. Bahkan, 62 persen di antaranya memakai ulang jarum tersebut. Cara membersihkan jarum, 65 persen memakai air biasa, 31 persen air panas. Sangat sedikit yang mensterilkan dengan merebus.

Hasil penelitian lain yang dilakukan I Made Setiawan dan timnya di Bali (1998) menyebutkan, 26,5 persen dari pengguna narkoba suntik itu memiliki lebih dari satu pasangan seksual aktif, 26,5 persen lainnya pernah menggunakan jasa pekerja seksual, serta 17,6 persen pernah berhubungan intim dengan orang asing. Akan tetapi, cuma satu orang yang konsisten memakai kondom.

Hal ini membuat kelompok pengguna narkoba suntik menempati posisi amat penting dalam mata rantai penyebaran HIV/AIDS. Menurut Zubairi Djoerban, guru besar dari FKUI RSCM yang bergerak di bidang penanggulangan HIV/AIDS, mereka rentan tertular akibat praktik berbagi jarum suntik. Kemudian, mereka berpeluang besar menularkannya ke kalangan nonpengguna narkoba suntik, istri mereka, anak dan pasangan seksual mereka.

“Tingginya angka kasus penularan HIV/AIDS di kalangan pengguna narkoba suntik ini menunjukkan kegagalan kita dalam penanggulangan masalah ini,” kata Zubairi. Hal ini disebabkan pemerintah dan pihak terkait dinilai belum serius mengatasi peredaran narkoba. Aparat kepolisian maupun lembaga peradilan juga hanya menekankan pada penegakan hukum dan pendekatan represif dengan hukuman penjara bagi pengguna narkoba.

“Program pengurangan dampak buruk penggunaan napza (harm reduction) di lapas atau rutan masih terbatas dan belum komprehensif,” ujar Nafsiah.

Diakui, pemerintah pada posisi dilematis dalam penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna narkoba suntik. Apabila dibiarkan, penularan HIV/AIDS pada pengguna narkoba suntik makin cepat. Di sisi lain, program layanan jarum suntik dikhawatirkan bisa melegalisasi peredaran narkoba.

Penyangkalan terhadap realitas meningkatnya kasus HIV/AIDS turut memperparah keadaan. Di sejumlah tempat, kelompok yang dianggap sebagai biang keladi penyebaran virus HIV— terutama para pekerja seks— menjadi sasaran kemarahan masyarakat, bahkan diikuti tindakan ekstrem dengan membakar lokalisasi dan tempat-tempat pelesiran lain yang dianggap sarang maksiat.

Kampanye kondom malah dianggap menganjurkan hal maksiat. Efektivitas kondom juga dipertanyakan sekelompok tokoh yang menganggap HIV/AIDS sebagai persoalan moral semata. Pada saat bersamaan, infeksi HIV terus melaju, termasuk pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV dan para istri yang tidak pernah berhubungan seks selain dengan suaminya.

Pengurangan dampak buruk
“Epidemi AIDS di kalangan pengguna napza suntik hanya bisa diubah jika kita berhasil menjangkau sedikitnya 80 persen dari mereka dan memberi paket pelayanan komprehensif pencegahan, pengobatan, serta perawatan,” kata Nafsiah. Sayangnya, upaya penanggulangan baru menjangkau sekitar 20 persen dari total populasi pengguna narkoba suntik.

Sejauh ini, pemerintah telah menyusun pedoman penanggulangan HIV/AIDS akibat pemakaian jarum suntik pada pengguna narkoba suntik secara bergantian. Pedoman itu mengatur penggunaan jarum suntik sebagai bagian layanan harm reduction di puskesmas, rumah sakit, dan lapas.

“Kebijakan pengurangan dampak buruk bagi pengguna narkoba suntik diperlukan karena bagi yang kecanduan tentu butuh waktu untuk berhenti,” kata Nafsiah.

Oleh karena itu, ujar Nafsiah, yang terutama bagi kita adalah bagaimana agar para pengguna itu jangan menularkan HIV, hepatitis B, dan hepatitis C. Oleh karena itu pula, kalau selama ini dia pakai jarum suntik, diupayakan agar berhenti dan pakai metadon.

“Akan tetapi, ada yang belum bisa pakai metadon dan tetap menyuntik. Maka, yang penting, ketika menyuntik menggunakan jarum sendiri yang bersih, jangan digunakan secara bergantian,” kata Nafsiah.

Dalam aturan itu, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia bertugas mengurus di lembaga pemasyarakatan, yaitu memisahkan antara pengedar dan pengguna. Setiap pengguna narkoba di lapas juga wajib diperlakukan sebagai pasien yang bisa disembuhkan. Apabila telanjur terinfeksi HIV, pasien dapat mendapat pengobatan tanpa didiskriminasi.

Realisasinya tentu butuh komitmen kuat dari pemerintah dan pemangku kepentingan dalam penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna narkoba suntikan. Untuk itu, kita bisa belajar dari negara-negara tetangga seperti Kamboja, khususnya menyangkut bagaimana upaya pencegahan yang terfokus dan berkelanjutan dapat menekan perkembangan epidemi HIV.

Leave a reply

LP,Sarang yang Nyaman..

November 25, 2007 By: Ikon Bali Category: Dokumentasi, Kampanye, Penyadaran

Sumber Kompas (24/11/2007)

Oleh Khairina dan CM Rien Kuntari

Di tengah hiruk pikuk upaya pemberantasan narkotika dan psikotropika yang luar biasa, ada satu sudut di negeri ini yang seolah “tak tersentuh” olehnya, yaitu sang bandar atau pengedar. Kenyataannya, mereka hidup sangat subur justru ketika berada di dalam penjara. Setidaknya, begitulah pengakuan satu di antara mereka….

Nama Anton Medan barangkali tetap menjadi nama yang akan tetap tersimpan rapi. Selama hidup, ia tak pernah lepas dari yang disebut penjara. Lebih dari 18 tahun dalam hidupnya ia habiskan dengan masuk keluar penjara. Dari semua sebab, yang terbesar adalah masalah narkoba.

(more…)

Mereka Membeli Tiket Sekali Jalan..

November 24, 2007 By: Ikon Bali Category: Advokasi, Apa Saja, Dokumentasi, Penyadaran

Sumber Kompas (24/11/2007)

Ketika aktor Roy Marten ditangkap di Surabaya karena tersandung kasus narkoba untuk kedua kalinya, kalangan pekerja infotainment ibarat mendapat durian runtuh. File lama dibuka ulang. Sederet nama artis yang sebelumnya berurusan dengan pihak berwajib lantaran terkait kasus serupa didedahkan kembali ke ruang publik.

Akibat gencarnya penayangan kasus narkoba di kalangan artis, muncul kesan bahwa kehidupan para artis sangat dekat dengan obat-obat terlarang. Seolah-olah sebagian besar artis Indonesia adalah pencandu narkoba.

(more…)

Diskresi Kapolri Sesuai HAM

November 21, 2007 By: Ikon Bali Category: Advokasi, Dokumentasi, Kampanye, Penyadaran, Provokasi!

Sumber Jawa Pos

Pemidanaan Anak Pemakai Narkoba Bukan Jalan Terbaik

JAKARTA – Diskresi yang dikeluarkan Kapolri Jenderal Pol Sutanto agar pengusutan anak-anak korban narkoba tidak diperlakukan seperti tersangka disambut positif Jaksa Agung Hendarman Supandji. Dia menegaskan, selaku penyidik, polisi memang memiliki kewenangan diskresi yang bisa menjadi alasan pemaaf dalam penanganan kasus pidana.

Sebagaimana diberitakan kemarin (11/11), sebuah terobosan hukum di bidang pemberantasan narkoba lahir di Gedung Graha Pena Jawa Pos, Surabaya . Sabtu lalu, saat penandatanganan MoU kerja sama antara Grup Jawa Pos dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), Sutanto menginstruksikan agar seluruh jajaran kepolisian tidak serta merta menjadikan anak di bawah umur sebagai tersangka narkoba.

“Saat ini, saya membuat diskresi bahwa para pemakai narkoba, terutama anak-anak, jangan diperlakukan seperti tersangka. Mereka lebih layak disebut korban,” kata Sutanto yang juga kepala BNN tersebut kala itu.

(more…)

Pencandu Narkoba, Korban atau Kriminal?

November 21, 2007 By: Ikon Bali Category: Advokasi, Dokumentasi, Kampanye, Provokasi!

Sumber Kompas

Jika Anda adalah Roy Marten, apa yang Anda butuhkan saat ini? Perawatan dan rehabilitasi, atau penjara?

Pertanyaan ini harus dijawab dengan baik karena menyangkut kepentingan manusia dan negara. Untuk itu, diperlukan argumen yang mengedepankan rasa keadilan dan kepentingan perlindungan masyarakat.

Mari mulai dengan penjara, pilihan yang lazim dilakukan. Apa manfaat penjara bagi pemakai narkoba seperti Roy Marten? Pendapat umum menyatakan, penjara memberi efek jera. Artinya, mereka yang melakukan tindakan melawan hukum akan takut mengulang perbuatannya karena tidak mau dipenjara lagi. Benarkah? Bagi pengidap masalah adiksi (judi, seks, alkohol, narkoba), pemenjaraan tidak pernah efektif. Sulit mencari bukti itu dalam literatur adiksi.

Kebutuhan akan zat atau perilaku yang digandrunginya, seperti judi, akan memberi dorongan yang amat besar sehingga mengalahkan mekanisme berpikir rasional dan rasa takut akan konsekuensinya. Karena itu, pencandu narkoba dan adiksi lain (penjudi, pemerkosa) adalah residivis paling umum di lembaga pemasyarakatan di mana pun di dunia. Pertanyaannya, mengapa?

 

(more…)

NakNik Community,Merayakan Keberanian Dengan Teater

November 17, 2007 By: Ikon Bali Category: Apa Saja, Dokumentasi

 

Dari Bale Bengong

Sepuluh mangkok bakso, dua piring siomay, dan satu mangkuk mie ayam seperti jadi pelengkap kegembiraan kami Minggu malam, pukul 20.00 Wita, lalu. Dengan lahap anak-anak menyantap menu kaki lima di pusat kaki lima Renon Denpasar tersebut. Tiga lagu dari pengamen, yang semuanya mereka ikuti, menambah perayaan malam itu.

Kami pantas merayakan malam itu. Sebab kami sudah melewatinya, meski tidak sukses-sukses amat. “Yang penting kami sudah tampil,” kata Gede Santika, salah satu dari 11 anak itu. Mereka memang bisa melewatinya. Dan itu sebuah modal awal.

Malam itu, anak-anak yang tergabung dalam Naknik Community itu baru saja usai mementaskan teater di wantilan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali. Mereka salah satu penampil dalam Pesta Seni Anti Diskriminasi yang diadakan Ikatan Korban Napza (IKON) Bali. “Pentas seni ini sebagai bentuk kampanye agar mantan pecandu narkoba maupun pecandu narkoba tidak terus mendapat diskriminasi dari masyarakat lain,” kata Koordinator IKON Bali, IGN Wahyunda.

(more…)

Dengarkan Musiknya, Sampaikan Nilai Perubahan

November 05, 2007 By: Ikon Bali Category: Advokasi, Kampanye, Penyadaran, Provokasi!

Bila kita kerap mendengar Hak Asasi Manusia (HAM), tentunya kita jangan hanya bisa berucap. Bila kita melihat beberapa orang di sekitar kita tertindas bahkan tersingkir dari kehidupan masyarakat sosial jangan hanya melihat dan berkata “kasihan”. Bila kita memang merasa peduli terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, sekarang saatnya kita bersuara dengan lantang. Kasihan, tidak hanya cukup dengan kasihan. Kita tidak dapat berharap bahwa perubahan akan terjadi dengan tanpa usaha. Untuk melakukan perubahan pastinya ada usaha untuk dapat mengatasi masalah diskriminasi yang terjadi pada pecandu narkoba dan orang dengan HIV/AIDS (Odha).

Berangkat dari masalah tersebut sekaligus untuk memperingati hari sumpah pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2007, IKON Bali akan menggelar pagelaran seni bertajuk Cinta, Damai, Peduli dan Anti Diskriminasi.

Dasar pemikiran dari kegiatan pentas musik anti diskriminasi ini bahwa pecandu dan Odha menyerukan kepada semua pihak, “Keberadaan, kehadiran kami bukanlah suatu bencana, tetapi suatu kenyataan perjalanan kehidupan yang harus kami jalankan tanpa harus mendapatkan ruang jarak, perbedaan, stigma (cap buruk)”. Pecandu dan Odha membutuhkan dukungan dari semua pihak karena bagaimanapun juga pecandu dan Odha adalah bagian dari masyarakat Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa adanya satu keinginan untuk menekan perbedaan, stigma dari masyarakat umum, karena apa yang pecandu dan Odha alami adalah suatu perjalanan hidup yang tidak dapat ditebak dan tidak pernah dibayangkan.

(more…)

Seruan Pecandu Menolak Diskriminasi

November 04, 2007 By: Ikon Bali Category: Kampanye, Penyadaran, Provokasi!

Press Release

Minggu, 4 November 2007, Ikatan Korban Napza (IKON) Bali menggelar pentas musik cinta, damai, peduli dan anti diskriminasi di Wantilan DPRD Bali Renon. Acara yang digelar mulai pukul 18.00 Wita sampai dengan selesai, menghadirkan band- band serta aksi teater dari segala komponen masyarakat.

Menurut Koordinator IKON Bali IGN Wahyunda pentas musik ini bertujuan untuk membangun solidaritas antar seluruh pegiat hak asasi manusia (HAM), melakukan kampanye publik anti diskriminasi dan membangun, menyebarluaskan nilai-nilai anti diskriminasi sebagai bagian dari HAM.

Acara dibuka dengan teater dari Naknik Communty, yang semua personilnya adalah anak-anak TK, SD, dan SMP. Teater selama 15 menit ini menampilkan cerita tentang mantan pecandu narkoba yang harus berjuang mendapatkan pengobatan. Setelah acara teater dari anak-anak Jl Subak Dalem V Denpasar Utara ini giliran Gung Jelantik menyampaikan orasi pada ratusan pengunjung yang hadir pada acara pentas musik malam itu.

(more…)

Foto Aksi Pertama Kali

November 01, 2007 By: Ikon Bali Category: Advokasi, Dokumentasi, Klik!

Foto-foto berikut adalah rekaman aksi IKON Bali pertama kali pada Desember 2006. Aksi di Pengadilan Negeri Denpasar dan Kejaksaan Negeri Denpasar ini dilakukan dalam rangka memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia. Tuntutan kami: Vonis Rehabilitasi Sekarang Juga!

ikon73.jpg

ikon44.jpg

ikon12.jpg

ikon11.jpg

Teriakan Kami

Leave a reply