Subscribe

Mengenang Kepergian I Gusti Ngurah Wahyunda

March 09, 2010 By: Ikon Bali Category: Dokumentasi, Profil

 

Sempat menjalani perawatan sekitar tiga minggu, Sabtu (6/3) lalu, sekitar pukul 00.00, Gung Wah sapaan I Gusti Ngurah Wahyunda, akhirnya berpulang. Berita atas kepulangannya pun mengagetkan kawan juga sesama aktivis korban narkoba dan HIV/AIDS di Bali.

KALAU sebelumnya Bali kehilangan “paman” bagi para mantan pecandu narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain (Napza), atas berpulangnya Direktur Yayasan Kemanusiaan Bali (Yakeba), Bob Monkhouse atau yang akrab disapa Uncle Bob, hari Minggu (7/2) kemarin duka kembali menyelimuti ranah pegiat Napza, saat pengabenan jenazah.

Sosok tokoh muda, sekaligus aktivis dan pejuang yang getol menggelorakan hak asasi manusia (HAM) bagi korban narkoba di Bali ini pergi untuk selama-lamanya. Gung Wah pergi diusianya yang baru 32 tahun.

Bak pepatah Inggris, “Only the good die young,” bapak satu putra kelahiran 1 April 1978 ini meninggal dunia, setelah menjalani perawatan di RS Sanglah, akibat penyakit komplikasi. Setelah menjalani prosesi upacara nyiramin (pemandian jenazah, Red) dan disemayamkan selama satu malam di rumah duka di Jalan Arjuna, Denkayu, Mengwi, Badung, Minggu (7/3) sekitar pukul 14.00 kemarin, digelar upacara pelebon atau pembakaran dan perabuan jenazah di pemakaman desa adat setempat.

Puluhan aktivis dari korban narkoba mengiringi prosesi pelebon bagi direktur programYakeba, ini. Meski dari gerakan dan perjuangannya membela para korban napza dikenal sampai manca negara, namun di mata para rekan dan sahabat, semasa hidup Gung Wah dikenal sebagai pribadi sangat rendah hati, low profile, dan sejauh ini cukup konsisten dengan perjuangan yang dilakukannya.

Terbukti, dengan semangatnya itu, dia juga tercatat sebagai  pendiri Indonesian Drug User Solidarity (IDUSA) atau yang lebih dikenal dengan nama Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI). “Dia juga salah satu tokoh HAM yang terus getol untuk memperjuangkan hak-hak para IDU,” terang Luh De Suryani, salah satu sohib mendiang.

Tak hanya itu, masih di mata kawan-kawan dan keluarganya, ayah satu putra ini dilihat sebagai sosok yang cukup keras dan tegas dalam memegang prinsip-prinsip perjuangan yang dilakukan bersama teman-temannya.

Bahkan selama sisa hidupnya, mantan narapidana yang pernah ditangkap polisi dan mengalami kekerasan fisik ini dikenal  sebagai sosok yang tidak henti untuk terus berjuang menolak diskriminasi dan stigma buruk terhadap para pengguna narkoba di masyarakat. Ini karena stigma negatif sebagai “sampah masyarakat” acapkali masih melekat.

“Dialah orang yang terus semangat untuk menuntut agar pemerintah dan para penentu kebijakan wajib menyediakan fasilitas rehabilitasi bagi para pengguna Napza dan menolak pemenjaraan bagi para pengguna Napza,” imbuh Luh De, sembari menyatakan bahwa mendiang adalah salah satu aktivis yang ikut aktif mendorong munculnya Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) tentang rehabilasi bagi pecandu.

Sementara itu, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di RS Sanglah, kata Luh De, putra pertama dari I Gusti Ngurah Kalem ini sempat dijenguk adiknya yang berada di Maluku. “Sebelum kepergiannya, dia ingin semua keluarganya kumpul. Dan, itu sudah terwujud sebelum Gung Wah pergi,” papar Luh De, mengenang saat dirinya sempat menjenguk ke sal RS Sanglah tempat Gung Wah menjalani perawatan.

Suka Menyemangati Mantan Pemakai Hidup Sehat dan Bermartabat

Seakan ada rantai yang terputus dan hilang, sepeninggal Bob Monkhouse dan Gung Wah. Begitu, yang kini dirasakan para penerusnya. Jiwa kepemimpinannya yang tegas, disiplin, adalah warisan yang diturunkan mendiang.

BAGAIMANAPUN perginya almarhum I Gusti Ngurah Wahyunda atau yang akrab disapa Gung Wah ini jadi pukulan sangat berat bagi para mantan pecandu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (Napza) di Bali. Sosok Gung Wah memang begitu diakrabi, tak asing bagi para mantan pecandu atau mantan junkies.

Pengalaman hidup kelamnya di dunia narkoba, dan sempat menyeretnya ke balik jeruji besi, dengan harus menjalani kekerasan, jadi bukti semangatnya untuk menghindarkan para korban Napza di Bali untuk bisa kembali menjalani hidup dengan lebih baik.

Gung Wah ingin sekali mengangkat, melepaskan mereka (para pecandu) yang sulit lepas dari imagesebagai “sampah masyarakat” itu. Seperti dilontarkan Kadek Adi Mantara atau yang akrab disapa Moyonk, merupakan rekan sekaligus saksi hidup perjuangan Gung Wah bersama teman-temannya, memberi spirit korban Napza.

Sepeninggal Gung Wah, Moyonk adalah satu dari sekian orang yang merasa sangat kehilangan. Kepada Radar Bali, Senin (8/3) kemarin, Moyonk menyatakan bahwa uncle Bob sapaan Bob Monkhouse dan Gung Wah memang tidak ada duanya, di matanya.

Bahkan, dengan kepergian Gung Wah, Moyonk mengaku bahwa dia mendapatkan amanah. “Saya mendapat amanah agar saya bisa melanjutkan cita-cita Uncle Bob untuk terus bisa mengelola Yakeba (Yayasan Kemanusiaan Bali, Red), dan permintaan itu seperti disampaiakn almarhum (Gung Wah maksudnya) saat saya menunggui di RS,” terang Moyonk.

Bahkan kini, Moyonk yang diberi tanggung jawab oleh dua mendiang sebagai Direktur Yakeba yang baru itu. Itu disampaikan di saat-saat terakhir sebelum kepergian. Bahkan Moyonk mengaku sempat mendapat wejangan dari mendiang untuk meneruskan pengelolaan yayasan.

Apa wejangannya? “Saya diminta untuk bisa mengambil setiap keputusan dan mengelola Yakeba, mendiang minta saya untuk berhati-hati mengingat karakter teman-teman yang 80 persen pecandu,” terangnya.

Bahkan atas sosok Gung Wah, Moyonk menyatakan bahwa mendiang sangat pantas dianugerahi gelar sebagai pahlawan bagi para pecandu narkoba di Bali. “Sosok disiplin, tegas, dan hati-hati dalam mengambil keputusan menjadi ciri khusus bagi Gung Wah. Bahkan untuk memperjuangkan hak-hak bagi para mantan pecandu dia rela meski harus mengorbankan keluarga,” terangnya.

Bahkan menurut Moyonk, jika di Bali sedang mencari pahlawan, menurutnya Gung Wah sebagai sosok yang pantas untuk jadi pahlawan. “Jika saja di Bali mencari pahlawan, menurut saya mendiang sangat pantas jadi pahlawan karena jasa-jasanya,”ujarnya.

Namun kembali soal kepergiannya, kini seakan dia kehilangan akan jaringan yang selama ini telah dibangun. Atas sepeninggal pendiri Ikon Bali, pendiri Yakeba itu, Moyonk sangat mengakuinya. “Untuk pembenahan internal mungkin tidak ada masalah, namun atas sepeninggalnya jaringan nasional dan mancanegara itu seakan terputus. Kami berharap hal itu bisa kami warisi,” harapnya.

Leave a reply

Comments are closed.