Subscribe

Diduga Aniaya Remaja, Polisi Di-Propam-kan

May 10, 2011 By: Ikon Bali Category: Dokumentasi

Ada saja yang memprotes kinerja korps baju coklat. Setelah sebelumnya penangkapan para pelaku perampokan SPBU yang diduga salah tangkap dan diwarnai kekerasan terhadap pelakunya, kini Bidang profesi dan pengamanan (BidPropam) Polda Bali kembali menuai laporan dari masyarakat. Laporan yang datang dari Buleleng ini menyangkut proses penangkapan tersangka narkotika yang dilakukan Buser Dit Narkoba Polda Bali.

Pertengahan minggu lalu, tepatnya Rabu (4/5), Dit Resnarkoba Polda Bali melakukan penangkapan terhadap remaja berinisial RUS,14, yang diduga mengantongi sabu-sabu (SS) golongan satu. Dalam aksi penangkapan tersebut, RUS yang sempat digelandang ke Polres Buleleng malam itu diduga mendapat penganiayaan. Sehingga tangan kanannya patah. Pihak keluarga RUS yang mengetahui hal itu langsung bereaksi dan melaporkan dugaan penganiayaan ini ke Bid Prpam Polda Bali, pada Jumat lalu (6/5). Pengaduan itu kemudian diproses dalam bentuk laporan bernomor LP/36/V2011 yang diterima oleh seorang petugas bernama Ngakan Nyoman Tapa.

Pengaduan ke Bid Propam tersebut dibenarkan Fahmi yang tak lain kakak RUS. Menurut pria yang tinggal di jalan Patimura, Singaraja, Buleleng ini adiknya mengalami patah tulang saat ditangkap petugas Polda Bali pada Rabu malam sekitar pukul 20.00. “Tentunya, kami tidak terima dengan perlakuan petugas kepada adik saya seperti itu. Sehingga kami pun melaporkan kejadian ini ke Propam,” jelas Fahmi, kakak RUS yang tinggal di jalan Patimura, Singaraja, Buleleng saat dikonfirmasi kemarin (8/5).

Menurtnya, luka yang diderita adiknya tersebut sudah diketahui petugas. Malam itu juga, setelah proses penangkapan dilakukan, adiknya sempat di-rontgen. Hasilnya, RUS benar-benar mengalami patah tulang ditangan kanannya.

“Cuma yang saya sesalkan kenapa adik saya tidak diobati terlebih dulu. Malah langsung dijebloskan ke sel bersama puluhan tahanan lainnya,” tegasnya.

Masih menurut penuturan Fahmi, RUS ditangkap saat berada didepan toko UD Sari Arta di jalan Erlangga Nomor 19, Singaraja. Dia ditangkap dengan tuduhan menyimpan SS seberat 1,04 gram. Bagi Fahmi, kalau memang adiknya terbukti bersalah, pihak keluarganya tidak akan mempermasalahkan tindakan petugas yang melakukan penangkapan pada
malam itu.

“Kami keluarganya, tidak mempermasalahkan kalau memang dia bersalah. Bahkan kami persilakan polisi memprosesnya secara hukum. Cuma, yang membuat kami kecewa,
kenapa proses hukum adik saya itu dilakukan dengan cara-cara yang melanggar hukum juga. Sampai tangan adik saya patah begitu,” tukasnya.

Dengan alasan itulah, dia pun melaporkan penganiayaan yang dialaminya ke Propam Polda Bali. Dan, dia berharap pengaduan tersebut secepatnya ditindak lanjuti untuk memenuhi rasa keadilan bagi keluarganya. “Saya berharap masalah ini diusut,” pungkasnya.

Di bagian lain, Kabid Humas Polda Bali, Kombes Hariadi yang dikonfirmasi terkait pengaduan tersebut mengaku belum mendapatkan informasi terkait pengaduan keluarga RUS. Menurutnya, proses hukum akan dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku. “Sementara untuk pengaduan dari pihak keluarga tentunya akan segera ditindak lanjuti,” ujar Hariadi, bernada diplomatis.

Leave a reply

Comments are closed.