Subscribe

In Memorial Wulan

March 27, 2013 By: Ikon Bali Category: Apa Saja, Dokumentasi

By : Moktar, Jakarta, 11 Maret 2013

Para staf-staf menyebutnya Bunda meskipun umurnya sebaya. Bunda mengingatkan kita pada sosok yang menyenangkan, egaliter, mengayomi dan penuh semangat untuk perbaikan masa depan buat anak-anak dan masa depan peradaban seperti yang digambarkan dalam novel Bunda Maxim Gorky. Bunda dalam novel tersebut membantu perjuangan anak-anaknya menyebarkan brosur  “pergerakan buruh “  untuk satu kata yang bernama perjuangan. Wulan bukanlah Bunda yang digambarkan oleh Maxim Gorky,  juga bukan Kartini yang dengan gigih memperjuangkan kaum perempuan dijaman kolonial dengan  budaya patiarky yang sangat kuat sehingga perempuan menjadi sangat termarginalisasi. Kartini dengan gigih memperjuangkan kesamaan laki-laki – perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Kita mengenalnya dengan buku yang sangat terkenal “Habis gelap, terbitlah terang.”

Wulan kita mengenalnya sebagai anak muda yang energik, cantik, mode  serta menjadi ketua yayasan Stigma. Tentu kita bukan hendak membandingkan kalau ingin tahu apa yang dilakukannya, juga bukan sebuah gossip atau sekedar berita infotainment melainkan kita memang perlu tahu Wulan sebagai sahabat, teman yang  telah memberikan sumbangsih untuk penanggulangan HIV. Ini jelas bukan untuk romantisme sejarah tetapi ada yang perlu dilihat dari sosoknya. Wulan adalah anak muda yang menjadi ketua Yayasan Stigma bersama teman-teman sebayanya untuk satu tujuan mengangkat derajat orang-orang yang termarginal karena memakai  “narkoba”.

Bersama teman-temannya  yang berjumlah enam orang, Wulan memproklamirkan pembentukan IPNI (Ikatan pengguna Narkoba Indonesia) yang sekarang bernama PKNI (Persatuan Korban napza Indonesia). Sebelum pembentukan IPNI para drug user hampir sebagain besar tiarap, tidak berani menampilkan diri bahwa ada masalah terhadap anak bangsa. Kata “pemakai” masih menjadi kata yang menakutkan dan bisa membahayakan dirinya sendiri karena akan muncul stigma dan diskriminasi yang bisa menimpanya. Tapi anak-anak muda ini telah memahami risiko dan melawan arus untuk mengatakan bahwa pemakai narkoba itu “ada”. Jika kita ingin mengatasi permasalahan maka meniadakan yang “ada” sama dengan bunyi kentut.

Wulan bersama teman-temannya ingin mengajak masyarakat dan pemerintah bahwa anak-anak negeri pemakai narkoba ini adalah “korban” dari pembangunan yang sangat sentralistik,  kapitalistik dengan mengumbar budaya pop serta melupakan kearifan lokal.  Mereka ingin mengajak masyarakat dan pemerintah untuk berbicara, berdiskusi, membuka ruang komunikasi mengatasi persoalan anak bangsa. Dari proses inilah ruang komunikasi bisa berjalan, pemerintah, LSM, dan drug user melakukan kerja-kerja kemanusian yang dikenal dengan program “Harm Reduction”. Memang kita juga tidak bisa melupakan jasa Jangkar dan LSM-LSM yang telah melakukan pendampingan terhadap drug user lebih dulu, namun Wulan juga ada di dalamnya. Sayang sekali jika penanggulangan HIV di komunitas drug user yang  memperlihatkan hasil cukup bagus tidak ada yang menulisnya. Karena kalau kita mau jujur mengakui, proses pergerakan drug user tidak terlepas dari keberanian dari enam anak muda yang mengikrarkan bahwa pengguna itu “ada”. Wulan bisa tidak tahu siapa itu Barbara Ward tetapi dalam upaya mengangkat derajat mereka yang direndahkan bisa sama seperti yang dikatakan Barbara Ward; “Kita harus terus berusaha. Kita tidak boleh mengabaikan kapasitas orang untuk tergerak oleh argument kebaikan.” Dan itu yang membuat Wulan  terus  bergerak untuk melakukan kerja-kerja kemanusian. Sebagaimana yang dituturkan Yana teman kerjanya, kalau Wulan masih semangat mengajak komunikasi tentang program untuk drug user di saat-saat maut akan menjemputnya.

Kini Wulan,  Suzana Murni, Wahyu dan Fredy telah beristirahat dalam damai. Anak-anak muda ini telah bekerja dengan komitmen dan konsistensi yang jelas  memberikan sumbangsih besar untuk penanggulangan HIV di Indonesia. Kita harus berterima kasih.

Selamat jalan kawan, kami semua akan selalu menjaga komitmen dan secara konsistensi meneruskan pekerjaan besarmu yang belum usai.

Comments are closed.