IKON BALI

Ikatan Korban Napza
Subscribe

Pengguna Napza Harus Terlibat!!

June 17, 2008 By: Ikon Bali Category: Uncategorized

Sebagai bagian dari kelompok masyarakat sipil, pengguna Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lain (Napza) harus terlibat dalam pengorganisasian. Dengan demikian, pengguna Napza sebagai kelompok yang terdampak Napza bisa mendorong tata pemerintahan yang lebih baik dalam konteks penanggulangan HIV dan AIDS.

Demikian salah satu hasil diskusi sesi pada hari kedua Pekan Nasional Harm Reduction (PNHR) II di Makassar, Selasa (17/6). Diskusi bertema Pengorganisasian Kelompok Terdampak Napza itu menghadirka pembicara Koordinator Ikatan Korban Napza (IKON) Bali I Gusti Ngurah Wahyunda, Ketua Dewan Nasional Jaringan Advokasi Harm Reduction (Jangkar) M Sophian Ihramsyah, Direktur Eksekutif Yayasan Spiritia Daniel Margurai, dan Warga Peduli AIDS Kiaracondong Bandung Tati Hartati.

Dalam presentasinya, Wahyunda memaparkan keberhasilan program IKON Bali dalam mengadvokasi kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap pengguna Napza di Bali. Menurut Wahyunda, mulainya kesadaran pengguna Napza di Bali untuk mengorganisasi diri berawal dari seringnya terjadi tindak kekerasan terhadap mereka.

Kekerasan yang terjadi pada pengguna Napza, kata Wahyu, terjadi akibat sistem yang tidak memihak pengguna Napza. “Penjara terbukti gagal memberikan efek jera pada kami. Kalau selesai dipenjara, kami bisa kembali menggunakan Napza,” ujar Wahyunda. Persoalan Napza yang dibingkai dengan moralitas juga membuat pengguna Napza sering mendapat diskriminasi oleh masyarakat maupun kriminalisasi oleh aparat hukum.

Pada September 2006, mereka kemudian membentuk kelompok yang tegas menyatakan sebagai korban. Dasarnya adalah karena menurut Deklarasi Universal HAM (DUHAM) bahwa setiap manusia memiliki hak untuk merdeka, bermartabat, dan punya hak sama. “Kami memulainya dengan cara membongkar isi kepala pengguna Napza dengan landasan tentang HAM sehingga sifat-sifat buruk pada pengguna Napza bisa diubah sedikit demi sedikit,” tambah Wahyu.

Sebagai sebuah kelompok pengguna Napza yang belum tahu tentang HAM, IKON Bali belajar tentang HAM terlebih dahulu. Dari belajar bersama ini kemudian muncul program aksi seperti demonstrasi ke instansi hukum serta berjejaring dengan lembaga lain yang peduli masalah HAM.

Hasilnya, saat ini sudah ada dokumen laporan pelanggaran HAM terhadap pengguna Napza di Bali. Laporan ini bahkan sudah masuk di shadow report ke Perserikatan Bangsa-bangsa. Lebih dari itu semua, pengguna Napza yang mendapat kekerasan dari aparat penegak hukum kini juga mulai ada yang berani melakukan protes pada petugas tersebut.

Pembicara lain, Ihramsyah menjelaskan tentang strategi Jangkar sebagai jaringan organisasi harm reduction di Indonesia. Menurut Ihram, untuk bisa terlibat dalam penanggulangan AIDS di tingkat nasional, Jangkar melakukan peningkatan kapasitas melalui lokakarya untuk aktivis LSM jaringan maupun konsultasi dan latihan terkait penanggulangan AIDS. “Kami juga memperkuat agar akses informasi terkait HIV/AIDS di tingkat nasional maupun internasional bisa diperoleh dengan mudah oleh anggota jaringan,” kata Ihram.

Menurut Ihram, untuk mengarusutamakan isu penanggulangan AIDS di kalangan pengguna Napza, maka organisasi masyarakat sipil harus berusaha keras untuk duduk sejajar dalam penanggulangan dampak buruk. Selain itu, organisasi masyarakat juga harus menyebarluaskan informasi dan melakukan komunikasi intensif dengan jaringan, memperjuangkan kebijakan yang peduli pengguna Napza, serta mendorong tata pemerintahan yang baik terkait isu ini.

Sementara itu, Daniel Margurai dari Yayasan Spiritia mengatakan pengguna Napza juga harus terlibat dalam penanggulangan AIDS. Sebab sampai Maret 2008 lalu, dari 17.998 kasus HIV dan AIDS di Indonesia hampir 50 persen masih terjadi di kalangan pengguna Napza suntik (Penasun). Sejak 1995, Yayasan Spiritia melakukan pendampingan pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA), termasuk dari kalangan penasun.

Hasilnya, saat ini sudah ada 18 kelompok kelompok dukungan sebaya (KDS) di 15 provinsi di Indonesia. KDS itu ada yang di kalangan Penasun aktif, Penasun tidak aktif, Penasun methadone, maupun yang masih ikut rehabilitasi. Melalui KDS ini, Penasun kemudian memiliki pengetahuan dan keterampilan terkait isu HIV dan AIDS, ODHA sendiri mampu menurunkan stigma dan diskriminasi, ODHA Penasun mulai terlibat dalam pemberi layanan khususnya harm reduction (HR), bahkan terlibat dalam pembuatan kebijakan di tingkat pusat dan maupun provinsi.

Di luar kalangan Penasun, kelompok lain pun perlu dilibatkan. Pengalaman Tati Hartati, dari Warga Peduli AIDS Kiaracondong Bandung bisa jadi pelajaran. Mereka terlibat dalam penanggulangan AIDS di kalangan Penasun dengan cara melakukan penyuluhan pada masyarakat termasuk pada ibu-ibu PKK, Majelis Ta’lim, dan remaja. Mereka juga membersihkan jarum suntik bekas dipakai Penasun. ”Bahkan kami pernh menemukan sejumlah jarum suntik yang masuk penuh darah,” katanya.

Menurut Tati, masalah penyalahgunaan Napza adalah masalah semua kelompok masyarakat. ”Kita jangan menutup mata untuk segera menolong mereka,” ujarnya. [pro!]

Leave a reply

[contact-form-7 id=”197″ title=”Untitled”]

Leave a Reply