IKON BALI

Ikatan Korban Napza
Subscribe

Aksi Hari Mandat dan Hari Anti Penyiksaan

July 02, 2008 By: Ikon Bali Category: Uncategorized

Kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pernah berpihak kepada pecandu, menjadi salah satu tekad dan perjuangan IKON Bali untuk menghapus cap buruk yang selalu melekat pada diri pecandu dan orang dengan HIV/AIDS [ODHA]. Kami selalu dianggap sebagai biangnya kejahatan, diperlakukan bak pencuri, perampok dan pendusta. Praktis kekerasan dan kesewenang-wenangan dianggap hal yang patut dan layak diterima oleh pecandu

Padahal pecandu adalah bagian dari masyarakat juga, yang mempunyai hak untuk dilindungi dan berhak mendapat perawatan, pengobatan serta rehabilitasi yang manusiawi. Penjara bukan solusi tepat buat pecandu karena mereka hanyalah korban dari ketidaktahuan tentang peredaran gelap narkoba dan penyalahgunaan. Ada dan tiadanya narkoba di Indonesia bukanlah tanggung jawab pecandu.

Untuk itu memperingati hari anti madat sedunia 26 Juni 2008, IKON Bali, Persaudaraan Korban Napza Indonesia Wilayah Bali dan PBHI menggelar aksi damai dengan tema “Hari Anti Madat, Satukan Mandat, Wujudkan Segera Regulasi Napza Yang Memanusiakan Korban Napza”. Adapun tuntutan kami adalah:

1. Hentikan segala bentuk kekerasan/penyiksaan
2. Tegakkan vonis rehabilitasi selama masa transisi pra amendemen UU 22/1997 tentang Narkotika
3. Hentikan segala bentuk praktek diskriminasi
4. Penuhi hak atas kesehatan sebagai wujud pemenuhan hak atas derajat kesehatan yang optimal

Menurut Kordinator Umum IKON Bali I.G.N Wahyunda aksi damai kali ini dilakukan agar anggota DPRD sebagai wakil rakyat mau mendengar aspirasi korban Napza. “Kami ingin agar anggota DPR membawa aspirasi ini ke pusat agar segera ada perubahan yang berpihak kepada kami, para pecandu dan ODHA,” ujarnya.

Puluhan peserta aksi membentuk tiga barisan di depan gerbang DPRD Bali. Kemudian menyanyi lagu Maju Tak Gentar yang dipimpin Wayan Broklyn. Setelah itu muncul pula lagu-lagu lain yang diikuti puluhan peserta aksi lainnya.

Sementara itu, di depan kantor DPRD Bali, sejumlah aparat baik dengan pakaian dinas maupun dari intelijen berjaga-jaga. Beberapa saat di tengah aksi, puluhan demonstran itu melepas sepatu mereka satu persatu. Momen ini untuk mengingat kawan-kawan yang sudah lebih dulu meninggal dunia karena HIV/AIDS.

”Agar kita juga ikut merasakan sakitnya penderitaan distigma dan diskriminasi,” tegas IGN Wahyunda Koordinator IKON Bali. Tiba di depan ruang lobby, beberapa anggota Dewan sudah terlihat menunggu kedatangan puluhan kader IKON Bali.

”Yang mau vonis rehab ikut kami!!!!! Ayo,ayo…” begitu terdengar pekak gempita meneriakan seruan.

Mendadak pocong-pocong muncul berbaur dengan puluhan pendemo. Pocong-pocong itu turut meneriakan tuntutan membela ODHA yang mati sia-sia karena minimnya dukungan dan akses kesehatan pada ODHA maupun korban Napza. “Saya menjadi pocong karena prihatin dengan melihat banyaknya ODHA dan pecandu mati akibat kurangnya layanan kesehatan dan peduli dengan pecandu,” kata Nur, salah satu korban Napza yang jadi pocong.

Aksi IKON mendapat tanggapan dari anggota Dwwan. Mereka menyatakan bahwa segala tuntutan lewat orasi maupun teatrikal akan disampaikan pada ketua DPRD Bali. Setelah mendengar pernyataan anggota dewan, peserta aksi merapatkan kembali barisan menuju kantor Gubernur Bali. Di situ kembali tuntutan dibacakan di hadapan pegawai kantor gubernur. Sayangnya, tidak tampak satu pun perwakilan gubernur yang menerima apalagi menyatakan pendapat mereka tentang aksi damai ini. [pro!]

 

Leave a reply

[contact-form-7 id=”197″ title=”Untitled”]

 

Leave a Reply