IKON BALI

Ikatan Korban Napza
Subscribe

Catat dan Laporkan Pelaku Pelanggaran

November 02, 2008 By: Ikon Bali Category: Uncategorized

Ingatlah baik-baik nama dan pangkat pelaku kekerasan pada Anda atau teman Anda. Kalau tidak tahu nama dan pangkatnya, cobalah ingat ciri-ciri fisik pelaku tersebut. Bentuk muka, tinggi badan, bahkan kumis pelaku itu ternyata penting juga untuk mengungkap kekerasan yang terjadi pada pengguna Napza.

Oktober lalu, Ikatan Korban Napza (IKON) Bali hadir dalam diskusi internal bersama Sara Davis, pendiri dan aktivis Asia Catalyst, lembaga advokasi korban kekerasan yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Meski berbasis di New York, Asia Catalyst justru lebih banyak memantau pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di negara-negara Asia seperti Thailand, Kamboja, China, dan Burma. Diskusi juga diikuti Performa Semarang dan East Java Action (EJA), dua jaringan IKON di Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI).

Dalam diskusi satu hari di Surabaya itu Sara Davis, yang akrab dipanggil Meg, membagi pengalaman tentang mengadvokasi korban kekerasan oleh polisi melalui dokumentasi dan penyebaran informasi. Menurut Meg ada beberapa prinsip untuk mendokumentasikan kekerasan oleh polisi.

Prinsip pertama adalah anonimity, keadaan tanpa nama. Nama pelapor, baik korban ataupun saksi, tidak penting untuk masuk dalam sebuah laporan kekerasan. Sebab dengan prinsip ini maka si pelapor bisa terlindungi. Prinsip kedua adalah security, keamanan. Untuk itu maka pelapor harus dilindungi keberadaannya. Misalnya dengan mewawancarainya di lokasi yang nyaman dan tidak mencolok.

Untuk mewawancarai pelapor juga perlu mempertimbangkan gender. Pelapor perempuan tentu lebih nyaman kalau melapor pada pencatat perempuan. Demikian pula sebaliknya.

Persiapan untuk mendokumentasikan laporan juga penting, baik dari sisi target wawancara maupun psikologis pelapor, terutama kalau pelapor tersebut adalah korban. “Ini untuk menghindari post traumatic stress disorder (trauma pasca kejadian),” kata Meg. Untuk itu selama wawancara harus diperhatikan apakah tempatnya sudah mendukung. Tidak misalnya korban pemukulan polisi tapi diwawancara dekat dengan kantor polisi. Pewawancara juga perlu bersimpati pada laporan korban dan menenangkan pelapor jika panik.

Prinsip ketiga adalah accuracy, ketepatan. Ketika membuat dokumentasi pelanggaran HAM oleh polisi, pencatat harus memasukkan unsur 5W + 1 H yaitu what (apa), where ( di mana), who (siapa), when (kapan), why (kapan), dan how (bagaimana). Katakanlah kita membuat dokumentasi itu maka harus ada kejelasan apa kejadian tersebut, siapa pelaku-korban-atau saksi-, di mana kejadiannya, kenapa bisa terjadi, dan bagaimana kejadian tersebut.

Dalam dokumentasi pelanggaran HAM juga penting untuk mencatat siapa pelaku dan pangkatnya. Kalau tidak bisa mengingat nama dan pangkat, maka ciri-ciri fisik pelaku akan sangat membantu. Kalau Anda pernah mengalami hal seperti ini maka ingatlah bentuk wajah, tinggi badan, atau bahkan pelaku itu berkumis atau tidak. Dengan cara ini korban atau saksi bisa membantu kalau korban mau memperkarakan pelaku pelanggaran.

Untuk membuktikan pelanggaran, korban atau saksi sebaiknya juga menunjukkan bekas-bekas di tubuh korban. Misalnya bekas sundutan rokok, bekas pukulan, dan semacamnya.

Masalahnya, seperti dikatakan Rudhi Sinyo dari EJA, polisi pelaku kekerasan pada pengguna Napza juga sekarang makin canggih modus operandinya. Misalnya dengan tidak memakai seragam ketika menyidik sehingga tidak ketahuan nama dan pangkatnya, menceburkan wajah korban ke kolam air sehingga tidak ada bekas, atau menutup wajah korban dengan plastik sehingga tidak bisa bernafas.

Lalu bagaimana merespon pelanggaran oleh polisi terhadap pengguna Napza? Meg membagi pengalaman bagaimana mengadvokasi kasus kekerasan melalui tulisan. Ketika terjadi kasus penculikan pada salah satu aktivis HIV/AIDS di Cina, Meg dan jaringannya di Asia Catalyst mengabarkan kasus tersebut pada aktivis lain di Amerika Serikat. “Karena tidak mungkin mengadakan demonstrasi di Cina,” katanya.

Aktivis HIV/AIDS di AS kemudian membuat demo di Kedutaan Cina di AS. Hal ini jadi simbol solidaritas global terkait dengan pelanggaran oleh polisi terhadap aktivis HAM. [pro!]

Leave a reply

[contact-form-7 id=”197″ title=”Untitled”]

Leave a Reply