IKON BALI

Ikatan Korban Napza
Subscribe

Ikut Terapi atau Mati!

November 22, 2008 By: Ikon Bali Category: Uncategorized

Kematian Orang dengan HIV dan AIDS (OHDA) di Bali meningkat dua kali lipat tahun ini dibandingkan empat tahun sebelumnya. Menurut data di bagian Voluntary, Counseling, and Testing (VCT) RS Sanglah kasus kematian ODHA pada 2004 adalah 32 orang. Namun tahun ini sudah 72 orang padahal baru sampai Oktober.

Selain kasus kematian, jumlah warga yang melakukan konseling terkait HIV dan AIDS juga meningkat tiga kali lipat dibanding empat tahun lalu. Dari 324 orang pada tahun 2004 menjadi 987 orang hingga Oktober lalu.

Kematian ODHA ini didominasi kalangan injecting drug user (IDU). Menurut Istina Dewi, Koordinator Pendampingan Yayasan Bali Plus, pada bulan lalu tercatat enam ODHA yang meninggal. Empat di antaranya adalah dari injecting drugs user (IDU). Sisanya waria dan heteroseksual.

“IDU seperti janjian satu sama lain. Mereka meninggal saling menyusul,” kata Istina Dewi, biasa dipanggil Antin.

Meningkatnya kasus kematian ODHA tersebut bisa terjadi karena beragam alasan. Tapi yang paling banyak adalah karena keterlambatan terapi ARV sehingga sebagian ODHA yang masuk ke rumah sakit sudah dalam keadaan kritis. “Sebagian besar ODHA yang datang sudah stadium lanjut sehingga sulit bertahan,” kata Sagung Suryani, koordinator klinik VCT Sanglah.

Yusuf Rey Noldy, konselor di Yayasan Hatihati mendukung pernyataan Sagung. Menurut Noldy, saat ini memang banyak ODHA yang masuk rumah sakit ketika kondisi kesehatannya sudah parah. “Biasanya karena terlambat ikut terapi ARV,” katanya. Antiretroviral (ARV) adalah obat untuk menghambat laju penambahan HIV di dalam darah ODHA.

Namun, lanjut Noldy, masih banyak ODHA yang tidak ikut terapi ARV meski tingkat kekebalan tubuhnya sudah semakin menurun dan sudah waktunya ikut terapi. “Karena mereka takut efek samping,” tambahnya. Menurut Noldy, minum ARV memang bisa mengakibatkan efek samping seperti ruam-ruam, neuropati, insomnia, bahkan keracunan obat. Tapi, lanjutnya, efek samping terjadi pada saat pertama kali minum obat.

Akibat efek samping ini, ODHA yang sudah terapi pun kadang-kadang mendadak berhenti minum ARV dan beralih ke terapi alternatif seperti obat-obatan tradisional. Mereka berhenti tanpa konsultasi dengan dokter.

Alasan kedua tingginya angka kematian ODHA adalah karena ketidaktahuan ODHA itu sendiri pada kesehatan pribadi. “Meskipun sudah tahu positif HIV, bahkan pada fase AIDS, namun IDU tersebut tidak tahu bagaimana sebaiknya menjaga kesehatan,” ujar Antin.

Ketidaktahuan ini terjadi, lanjut Antin, karena ODHA tersebut sama sekali tidak mendapat pendampingan dari LSM di Bali sementara ODHA itu sendiri tidak terbuka pada keluarga. Ketika sudah di rumah sakit dan kritis, barulah pihak rumah sakit yang menelpon LSM agar ODHA tersebut mendapat pendampingan. “Tapi kami tidak bisa berbuat banyak karena kondisinya juga sudah parah,” tambah Antin.

Gaya hidup adalah faktor ketiga. Sebagian ODHA, apalagi IDU, memang tidak peduli pada kesehatan sendiri. Contohnya waktu makan tidak teratur. Atau berhubungan seks tanpa kondom dengan pekerja seks komersial untuk menghilangkan stress. Atau merokok dan minum minuman beralkohol. “Masak sudah tahu kena Tuberculosis (TB), masih saja merokok,” kata Antin.

Karena tidak peduli terhadap kesehatan sendiri, lanjut Antin, sebagian besar ODHA IDU juga tidak tahu tentang kesehatan dasar sehingga tidak pernah check up. Untuk cek kesehatan mereka biasanya menunggu gratisan. Padahal secara ekonomi mereka mampu. “Mereka lebih suka mengeluarkan uang untuk bersenang-senang daripada untuk menjaga kesehatan,” tambah ibu satu anak ini.

Namun, menurut Noldy, banyak pula ODHA yang tidak peduli kesehatan karena alasan ekonomi. Mereka mengaku tidak bisa cek kesehatan karena tidak bisa membayar biaya di rumah sakit. “Kalau sudah seperti itu, kami tidak juga mau bilang apa. Karena kami juga tidak bisa membantu biaya pengobatan,” tuturnya.

Noldy, yang juga mantan IDU, mengatakan sebaiknya ODHA cek kesehatan tiap tiga bulan sekali untuk menjaga agar kondisi tubuh tidak drop. Selain itu, ODHA juga perlu konsultasi pada dokter atau konselor sebulan sekali. “Karena ODHA kan rentan mengalami masalah kesehatan jadi harus rajin cek kesehatan. Tidak harus sakit untuk cek up,” kata Noldy.

Bagi Noldy dan Antin, kematian ODHA itu sendiri bermakna ganda. Di satu sisi, akibat kematian tersebut, dampingan mereka makin berkurang. Begitu pula beban pekerjaan. Tapi di sisi lain, secara psikologis itu sangat berpengaruh. “Makin banyak ODHA yang meninggal membuat kami makin down. Itu tidak bisa kami tutupi. Apalagi mereka juga teman kami sendiri. Seperti mengingatkan kapan ya giliran kami,” ujar Noldy. [pro!]

Leave a Reply