IKON BALI

Ikatan Korban Napza
Subscribe

Peran Keluarga Dalam Pemberantasan Narkoba

February 25, 2008 By: Ikon Bali Category: Uncategorized

Pencegahan penyalahgunaan narkoba harus dilakukan sedini mungkin. Benteng yang kuat harus ditanamkan sejak dari rumah. Keluarga merupakan pertahanan utama agar seseorang bisa terhindar dari jeratan narkoba. Demikian yang terangkum dalam Dialog Publik “Peran Keluarga dalam Penanggulangan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba” yang diselenggarakan di Wantilan DPRD Bali Renon Denpasar Sabtu 23 Februari 2008 kemarin.

Hadir pada kesempatan itu, Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional I Made Pastika sebagai pembicara tunggal dan Prof. LK Suryani sebagai moderator. Acara yang dihadiri berbagai kalangan lintas usia, mulai dari pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga hingga kakek-nenek terlihat meriah. Prof. Suryani menyampaikan, ada dua penyebab seseorang mengkonsumsi narkoba yaitu faktor internal dan faktor eskternal.

“Faktor internal meliputi ketidakmatangan emosi seseorang. Ketidakmatangan emosi ini dimulai sejak dalam kandungan. Misalnya, seseorang yang tidak dikehendaki kelahirannya sehingga ibu si bayi berusaha menggugurkan kandungan itu dengan cara apa saja. Hal ini akan membekas dalam hidup si bayi jika lahir,” tegas Prof. Suryani. Dia menambahkan, kemudian apakah seorang anak mendapat kasih sayang yang cukup dari orang tuanya? Menurutnya, sekarang hampir 90 persen anak-anak tidak pernah didongengkan sebelum tidur oleh ibunya dan tidak pernah makan bersama dengan orang tua. Faktor-faktor ini menyebabkan seorang anak akan mencari identitas atau keluarga baru yang mengakui eksistensinya. Kemungkinan buruk, seorang anak akan dengan mudah terjerat narkoba.

Banyaknya iklan rokok juga menjadi sorotan Prof. Suryani. “Merokok merupakan jembatan untuk memakai narkoba. Banyak pecandu bisa berhenti menggunakan narkoba,” ucapnya. Tetapi, “Jarang ada perokok yang bisa menghentikan kebiasannya merokok.” Disamping itu, banyak orang tua mengganggap anak-anak mereka tidak tahu apa-apa. Orang tua menentukan secara mutlak hal apa yang harus dilakuukan seorang anak. Akibatnya, anak akan kehilangan identitas dan untuk menunjukkan eksistensinya dia menggunakan narkoba.

Sedangkan I Made Mangku Pastika menyoroti dampak penyalahgunaan narkoba. Menurutnya, hampir Rp 40 miliyan dihabiskan oleh orang Indonesia untuk mengkonsunsumsi narkoba setiap harinya. Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), penggunan narkoba di Indonesia sudah mencapai angka 3,2 juta penduduk. “Setiap hari ada 41 orang mati sia-sia karena penyalahgunaan narkoba. Setiap tahunnya, 15.000 orang Indonesia harus kehilangan nyawa karena penggunaan obat-obatan terlarang,” kata Mangku Pastika.

Mangku Pastika mengatakan, ada beberapa faktor mengapa seseorang bisa bisa terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Pertama, faktor keluarga. Faktor keluarga meliputi, apakah suatu keluarga demokratis, kaku atau permisif. Keluarga kaku adalah keluarga yang otoriter. Larangan adalah larangan. Tidak ada toleransi. Semua keputusan ada di tangan orang tua dan anak tidak berhak untuk mengambil keputusan. Keluarga permisif adalah keluarga yang memperbolehkan anaknya melakukan apa saja. Tipe keluarga ini cenderung menjadi kelurga liberal, yakni memperbolehkan anak melakukan sesuatu tanpa pengawasan dan pertimbangan orang tua. Sedangkan keluarga demokratis adalah keluarga yang dalam melaksanakan keputusan harus ada kesepahaman dan kesepakatan antara orang tua dengan anak.

Faktor kedua adalah faktor lingkungan. Menurut Mangku Pastika, setiap orang tua wajib tahu di lingkungan apa anaknya bergaul. Termasuk didalamnya, bagaimana latar belakang keluarga teman anak mereka. “Bukan bermaksud mencampuri, hanya saja ini sebagai bentuk kewaspadaan kita terhadap anak-anak agar tidak terpengaruh ke lingkungan yang buruk,” ucapnya.

Faktor terakhir adalah faktor ketersediaan narkoba. Saat ini, hampir 60-70 persen penghuni lembaga permasyarakatan adalah berkaitan dengan kasus narkoba. mengapa? Sebab bisnis narkoba adalah bisnis yang menggiurkan. Mereka akan bersedia menukra nyawa mereka asalkan mendapatkan uang yang banyak. “Bayangkan, harga satu kilo ganja di Aceh hanya Rp 300.000. tetapi ketika sudah mencapai di Bali, harganya bisa mencapai Rp 3.000.000. Bagaimana orang-orang tidak tertarik untuk menekuni bisnis seperti itu?” ucapnya. Orang-orang yang sudah terjun ke bisnis narkoba akan rela melakukan apa saja termasuk rela dipenjara selama bertahun-tahun. “Toh dia akan bis mengendalikan bisnis narkoba dari dalam penjara,” ucap Mangku Pastika.

Sehingga, peran masing-masing pihak dalam keluarga mutlak diperlukan. Orang tua harus mengawasi anak-anaknya, istri harus mengawasi suami dan sebaliknya dan anak-anak harus mengawasi orang tuanya. “Anak-anak Rou Marten tidak ada yang nyabhu. Eh, malah bapaknya yang pakai narkoba,” kata Mangku Pastika yang disambut gerr oleh peserta dialog.

Ketika ditanya oleh peserta, mengapa hanya bandar kecil saja yang tertangkap, Mangku Pastika dengan lugas menjawab, “Bandar besar punya jaringan yang sangat licin. Mereka punya uang banyak untuk menghindar. Bahkan, kurir pun tidak tahu siapa pemilik narkoba itu sebenarnya. Mereka, berani menginap di hotel berbintang demi menghindari kejaran petugas. Sedangkan dana operasional kepolisian terbatas. Nah, disinilah kendalanya. Tapi kita tidak bisa pungkiri keberhasilan aparat menangkap beberapa bandar besar seperti Kelompok Bali Nine, di Batam dan di Bekasi,” tegas Mangku Pastika.

Dia tidak memungkiri penjara adalah sarangnya peredaran narkoba. Sehingga dia berjanji akan memperbaiki sistem yang sudah terbentuk itu. “Tempat rehabilitasi narkoba sangat terbatas. Meskipun undang-undang mengatakan vonis yang dijatuhkan kepada pecandu adalah vonis rehab, tetapi tempat untuk merahabilitasi sangat minim. Sehingga, pecandu kebanyakan dimasukkan ke lapas umum.”

Mangku Pastika berharap peran aktif keluarga untuk saling mengawasi. Karena mencegah kecanduan narkoba lebih baik dari mengoba. Di akhir acara dia berpesan, “Tetapi kita tidak boleh mengucilkan anggota keluarga kita yang sudah terlanjur menjadi pecandu.”

Benar, pecandu tidak boleh mendapatkan diskriminasi!!

Comments are closed.