IKON BALI

Ikatan Korban Napza
Subscribe

Ada Cerita 328 Ineks Hilang Juga Kecawa Vonis Hakim

October 19, 2007 By: Ikon Bali Category: Uncategorized

Sumber: Radar Bali, 24/09/2007

PERKARA narkoba memang acapkali bak kisah fiksi. Ambil contoh misalnya kasus Go Yo Seng alias Aseng, napi narkoba jenis psikotropika. Begitu dramatis ceritanya saat tertangkap “jajan” perempuan di Blanjong, Sanur, bersama sipir, tahun 2001 lalu.

Eh, ternyata agustus tahun 2007, dia tertangkap lagi jualan narkoba bersama Arman Maulidie dari penjara super maximum security, Pasir Putih, Nusa Kambangan, Cilacap.

Atau kasus Steven Turner, yang BB akstasinya “hilang” 328 butir, saat dilimpahkan ke kejaksaan. Dari semula 8.175 butir, saat diserahkan ke Kejari hanya 7.847 butir saja. Kejadian Maret 2003 silam ini tentu saja menghebohkan.

Waktu itu antara jaksa dengan polisi saling tuding. Jaksa mengaku Cuma menerima barang segitu, sesuai pelimpahan. Di pihak polisi, Dir Narkoba Polda Bali waktu itu, AKBP Bambang Sudiarta menunjuk wakilnya, AKBP Heru Ismono, yang ikut menggerebek Turner. Tapi Heru pun saat itu mengaku tidak tahu persis, prihal jumlah BB dan menuding Dir Reskrim sebelumnya.

Otoritas masing-masing instansi memang kuat. Dan punya alur sendiri, dalam perkara narkoba. “Masing-masing aparat penegak hukum baik polisi, jaksa, dan hakim memiliki tugas masing-masing,” ujar Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol AS Reniban, belum lama ini. Menurutnya, polisi hanya berwenang menangkap pelaku narkoba dan melakukan proses penyidikan. Seperti mengumpulkan bukti-bukti dan lain-lain. Selebihnya, kasus bakal dilimpahkan ke kejaksaan dan diteruskan ke pengadilan.

Tapi dia mengaku tidak jarang banyak anggota polisi yang dongkol. Sudah capek-capek memburu pelaku, ternyata hanya divonis ringan. Pun demikian Reniban membantah jika polisi menyimpan rasa kecewa terhadap putusan hakim. “kami harus menghormati proses hokum yang berlaku,” pungkasnya bijak.

Meski soal vonis seakan terbebas dari tudingan “main mata” dengan pelaku narkoba. Namun bagaimanapun juga, aparat di bawah kendali Dir narkoba Kombes Pol Edison Panjahitan ini harus mendapat perhatian dari masyarakat. Jangan sampai polisi hanya terlihat taringnya saat menghadapi Bandar narkoba kelas teri. Atau pemilik narkoba dalam jumlah kecil. Sedangkan sang Bandar besar justru melenggang dengan bebas.

Menanggapi sorotan miring tersebut, Reniban mengatakan bahwa polisi telah berusaha maksimal mengejar Bandar besar narkoba. Hanya saja, untuk menangkap Bandar besar memerlukan proses panjang. (cas/pit)

Comments are closed.