Subscribe

Archive for the ‘Kampanye’

Ikatan Korban Napza Tuntut Ijin Edar Obat Hepatitis C Terbaru

July 28, 2015 By: Ikon Bali Category: Advokasi, Hepatitis C, Kampanye

aksibalitribunnews.com Selasa 28 Juli 2015

Bertepatan dengan peringatan hari hepatitis sedunia, puluhan masa yang dominan mengenakan pakaian hitam menyambangi kantor BBPOM (Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan) di DenpasarBali, Selasa (28/7/2015).

Dengan mengatasnamakan diri dari IKON (Ikatan Korban Napza) dan Yakeba (Yayasan Kesehatan Bali), mereka tampak bersemangat menyuarakan aspirasi di halaman BBPOM tanpa menghiraukan panasnya terik matahari.

(more…)

Indonesian AIDS policy : “On The Ground” Isn’t as good as “On Paper”

May 13, 2009 By: Ikon Bali Category: Advokasi, Kampanye

by Anton Muhajir
Published at Asia Report

For Agus, fictitious name, the end of life was not the end of a journey. As a former injection drug user (IDU), he faced a new problem when he passed away. Two days ago, the IDU died from complications arising from AIDS. Often in Bali, a person who dies is the responsibility of not only their families, but also of the traditional local community, called banjar.

Normally, this care consists of bathing, burying, cremation, and a traditional farewell ceremony. But not for Agus.  Agus’s body was rejected not only by his family, but by his community, as well.

Fortunately, Agus still had many friends: fellow users and former IDU and people living with HIV and AIDS (PLWHA).  So, these friends brought Agus’s body back to Sanglah Hospital, the biggest hospital in the Province of Bali, Indonesia, where it was treated.  About a week before, the same story happened with Budi (not real name), another of the PLWHA in Bali. Because of his HIV/AIDS status, Budi’s body was also rejected by the residents.

(more…)

Banyak IDU Salahgunakan Buprenorphine

January 10, 2009 By: Ikon Bali Category: Kampanye

Oleh Anton Muhajir

Injecting drug user (IDU) pasien terapi buprenorphine di Bali banyak yang menyalahgunakan obat tersebut dengan cara menyuntikkan. Padahal obat ini seharusnya digunakan dengan cara oral, diletakkan di bawah lidah.

Buprenorphine, di kalangan IDU lebih dikenal dengan nama pasaran Subutex, adalah obat untuk terapi substitusi heroin. Pasien terapi buprenorphine adalah pengguna heroin yang sedang berusaha melepaskan ketergantungannya dari heroin. Penggunaan buprenorphine dengan dosis yang terus menerus mengecil akan mampu menghilangkan ketergantungan dari narkoba.

Menurut aturan pakai di bungkus obat maupun resep dari dokter, obat berbentuk pil ini harus dipakai dengan cara oral, dilarutkan di bawah lidah. Namun, bagi IDU yang sudah terbiasa mengonsumsi heroin dengan cara menyuntik, cara pakai tersebut dianggap tidak asik. Maka, mereka menyalahgunakan dengan cara menyuntikkan.

Salah satu pasien terapi buprenorhpine, Iwan, bukan nama sebenarnya, mengaku dia lebih senang menyuntik buprenorphine dibanding melarutkannya di bawah lidah. “Kalau pakai dengan cucaw (bahasa slang untuk menyuntikkan Narkoba), lebih ada sensasinya,” katanya.

Iwan yang pernah menggunakan heroin sejak 1998, sebelum beralih ke buprenorphine, mengaku menyuntikkan buprenorphine sebenarnya lebih sakit. Rasa obat juga tidak terasa dibanding kalau menggunakannya secara oral. Namun, dia melakukan itu karena belum bisa menghilangkan sugesti ketika pakai heroin.

Karena itu dia tetap saja menyuntikkan buprenorphine meski rasanya tidak seenak kalau dioral. “Yang penting kan bisa menghilangkan sakaw (rasa sakit ketika tidak menggunakan heroin),” ujarnya.

Iwan menggunakan Subutex sejak pertama kali obat tersebut dijual di Bali sejak sekitar 2004. Dari yang semula aktif menggunakan putaw, bahasa slang untuk heroin, Iwan kemudian beralih ke buprenorhpine. Kini dia memakai buprenorphine dengan dosis 2 ml untuk dua hari. “Saya bagi dua saja obatnya untuk dua hari,” katanya.

Dia tidak mau pakai methadone, obat jenis lain yang digunakan untuk substitusi heroin juga. “Percuma. Biasanya kalau pake methadone pasti masih pakai heroin,” katanya.

IDU lain, Agus, nama samaran, juga melakukan hal yang sama. Dia memilih menggunakan buprenorphine dengan cara menyuntik daripada cara oral.

“Dokter juga sudah tahu sejak awal kalau aku pakai dengan cara cucaw,” akunya ketika ditemui di depan apotik di daerah Sanglah tempat dia membeli Subutex.

“Tapi dokter toh tidak melarang. Katanya yang penting aku tidak pakai putaw,” tambahnya.

Kini Agus menggunakan buprenorhine dengan dosis 2 ml per hari. Obat itu, yang menurut cara pakainya harus dioral, dia haluskan lalu dicampur air. Setelah disaring dengan kapas, air campuran buprenorphine itulah yang kemudian dia suntikkan ke urat.

Penyuntikan ke saraf ini berbahaya. Sebab, kalau tidak tepat pada saraf, maka obat itu akan mengakibatkan pembengkakan pada urat (abses).

Iwan mengaku tidak pernah mengalami abses karena dia menyuntik dengan besih. “Kalau aku kan saring dulu agar ampas Subutexnya tidak ikut masuk ke urat,” katanya. Agus beda lagi. Sudah tak terhitung berapa kali dia mengalami pembengkakan di urat.

Tapi Agus cukup pakai kompres untuk menyembuhkan pembengkakan tersebut. “Paling dua hari sudah hilang bengkaknya,” kata Agus.

Pembengkakan merupakan salah satu dampak negatif penyalahgunaan buprenorphine. Toh, hampir semua pasien terapi buprenorphine ternyata melakukan itu, menyuntikkannya. “Aku yakin 85 persen IDU (pasien terapi buprenorphine) menyuntik daripada oral,” kata Agus.

Nyoman Suasta, petugas lapangan Yayasan Hatihati, salah satu lembaga penanggulangan AIDS di Bali yang melaksanakan program harm reduction, antara lain dengan memberikan jarum suntik steril pada IDU, mengatakan semua kliennya adalah pengguna buprenorphine dengan cara menyuntik.

Nyoman yang bekerja untuk wilayah Denpasar dengan tujuh klien, mengaku kliennya adalah pengguna buprenorhpine dengan jarum suntik, bukan oral. Dia sudah memberikan informasi tentang dampak negatif penyalahgunaan tersebut, namun kliennya tetap menyalahgunakan buprenorphine tersebut.

“Kami semua tidak perlu dikasih tahu dampak negatifnya. Kami semua sudah tahu. Tapi kami kan belum bisa menghilangkan sugesti,” kata Agus.

Denny Thong, dokter yang memberikan layanan terapi buprenorhine, mengakui bahwa di kalangan IDU memang banyak penyalahgunaan buprenorphine ini. “Mereka masih terus menyuntik meski kamu sudah berusaha setengah mati untuk tidak melakukan itu,” kata Denny. Hal tersebut, lanjutnya, tidak hanya terjadi di Bali tapi juga Indonesia dan dunia. Dari sekitar 100 pasiennya, Denny mengaku hampir semuanya menyuntikkan buprenorphine.

Menurut Denny, penyuntikan Subutex bisa berakibat fatal. Selain pembengkakann juga bisa mengakibatkan pembuluh darah tertutup. “Paling parah bisa mengakibatkan kematian,” ujar Denny.

Selain dengan cara memberi tahu dampak negatif, menurut Denny, saat ini juga sudah ada obat baru bernama Suboxon dengan kandungan zat yang sama dengan Subutex. Namun, lanjut Denny, banyak IDU yang tidak suka dengan obat ini. Sebab kalau disuntik memang tidak terasa apa-apa.

“Kami seperti menjerit di tengah padang pasir. Tidak ada yang mau peduli,” ujarnya. [!]

Sumber http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2009/01/09/banyak-idu-salahgunakan-buprenorphine.html

Leave a reply

Jatuh Bangun Perjalanan Dua Tahun

September 22, 2008 By: Ikon Bali Category: Advokasi, Dokumentasi, Kampanye

Kue ulang tahun menandai dua tahun umur Ikatan Korban Napza (IKON) Bali minggu awal September ini. Ya, tidak terasa, komunitas korban narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (Napza) di Bali sudah berusia dua tahun. Usia yang sangat muda. Kalau bayi, dia sedang belajar menata satu dua kata. Sudah bisa berjalan, bahkan berlari. Tapi kadang dia masih jatuh karena kurang hati-hati.

Begitu pula IKON Bali. Di usia yang dua tahun ini, IKON Bali pun masih tertatih-tatih. Kami masih terus belajar meneriakkan tuntutan untuk mengubah sistem agar lebih adil pada kami. Di sisi lain, kami juga sekali dua harus bangun kembali setelah terjatuh.

Pada awal dibentuk September 2006 lalu, ada beberapa anggota tim inti. Tapi enam bulan berjalan, tim ini mulai oleng. Satu teman tertangkap polisi karena menjual narkoba, lalu masuk penjara. Teman lain mengundurkan diri karena alasan pekerjaan. Ada pula yang tak muncul lagi entah karena apa. Tim ini pun mengalami bongkar pasang. Sesuatu yang wajar dalam sebuah ikatan.

(more…)

Menuntut Vonis Rehab Bagi Pecandu!

March 26, 2008 By: Ikon Bali Category: Kampanye, Provokasi!

Roy Marten menangis di sidang pengadilan. Ketika acara pemeriksaan berlangsung, artis era 1970-an sesenggukan di pengadilan. Dengan polosnya dia menjawab, dia belum bsia lepas dari ketergantungan dari narkoba. Dan dia memohon kepada majelis hakim agar tidak dijatuhi hukuman pidana melainkan divonis untuk ditempatkan di lembaga rehabilitasi.

Menurut Roy, pengalaman di penjara bukannya menghilangkan kebiasaannya mengkonsumsi sabhu-sabhu. Hal yang terjadi justru sebaliknya. Dia bisa mendapatkan dengan mudah barang haram tersebut di lembaga permasyarakatan. Akibatnya, tujuan pemidanaan yang sejatinya untuk memberi efek jera kepada pelakunya menjadi ternafikan sama sekali. Kenyataan berkata sebaliknya. Dia justru semakin tidak bisa lepas dari ketergantungan terhadap sabu-sabu.

(more…)

Kapan Pecandu Dapat Rehabilitasi?

March 01, 2008 By: Ikon Bali Category: Advokasi, Kampanye

Kronik Medical Person adalah istilah kedokteran yang ditujukan kepada pecandu drugs. Istilah ini mengacu pada fakta bahwa pecandu korban yang harus dilindungi atas dasar hukum juga harus dibentuk ke arah pemulihan. Karena itu ada dua proses yang dilalui oleh si pecandu yaitu di satu sisi pecandu tetap sebagai warga yang wajib mematuhi hukum yang berlaku dan di lain sisi pecandu juga berhak mendapatkan pengobatan disertai pemulihan.

Masalahnya, pecandu selama ini hanya mendapatkan stigma atau julukan sebagai biang keroknya terjadinya kriminalitas dan yang lebih parah lagi adalah sampah yang harus disingkirkan, dipenjara atau bila perlu dihapuskan dari muka bumi ini. Selama ini masyarakat banyak yang berpikiran bahwa pecandu pasti pernah melakukan tindakan kriminal. Atau suatu ketika, nanti, besok atau kapan saja di mana saja pecandu akan melakukan tindakan yang melanggar hukum. Inilah stigma yang harus dihilangkan.

(more…)

Melawan Kejahatan HAM dengan Obor

January 13, 2008 By: Ikon Bali Category: Advokasi, Kampanye

Oleh Wayan Agus Purnomo

Sebagai bentuk keprihatinan terhadap tingginya pelanggaran HAM di China, tuan rumah Olimpiade 2008, Koalisi HAM Bali menyambut Obor HAM Estafet Global di Lapangan Puputan Badung, Sabtu 12 Januari 2008 lalu.

Koalisi ini terdiri dari beberapa elemen dan LSM yang peduli dengan pelanggaran HAM seperti LBH, PBHI, Manikaya Kauci, Yakeba, PMKRI, NIM, Mitra Kasih, Polwatch, Sandhi Murti, IKON Bali, GAYa Dewata dan GHuRe.

I Nengah Jimat, LBH Bali mengatakan acara ini dilaksanakan terkait dengan penghelatan Olimpiade China pertengahan tahun ini. Berbagai kasus pelanggaran HAM di China merupakan tanggung jawab bersama. Penyambutan obor ini bertujuan untuk menggalang kepedulian dan menggugah masyarakat Bali terhadap kondisi HAM dunia akhir-akhir ini, khususnya dalam Olimpiade Beijing. Penyelenggaraan Olimpiade ini akan menjadi momentum untuk mengingatkan dan menggugah kembali perbaikan HAM dunia yang makin memburuk, terutama di China.

(more…)

Di Tengah Peta Perdagangan Dunia

November 25, 2007 By: Ikon Bali Category: Apa Saja, Dokumentasi, Kampanye, Penyadaran

Sumber Kompas (24/11/2007)

Oleh Windoro Adi dan Iwan Santoso

Dari dalam penjara seperti LP Salemba, Jakarta, para narapidana kasus narkoba justru semakin mudah memperoleh barang-barang terlarang, seperti sabu. Sulit dipercaya dan dicerna akal sehat, tetapi itulah kenyataan yang diakui para pengguna, pengedar, dan pihak kepolisian.

Aneh, tetapi nyata! Barangkali itulah ungkapan paling pas untuk menggambarkan situasi terkini peredaran narkoba di Tanah Air. Tak heran apabila tiga tahun lalu Indonesia belum dikenal sebagai pasar utama, tetapi sejak tahun 2005 Indonesia sudah masuk dalam tiga besar peredaran narkoba—terutama jenis sabu (crystal methamphetamine)—dunia, bersama China dan Amerika Serikat.

Meski beberapa kali diberitakan bahwa polisi menggerebek pabrik ekstasi dan membongkar tempat pembuatan sabu dalam skala besar, peredaran narkoba tak pernah surut. Sejumlah pengguna telah diciduk, para pengedar pun dijebloskan ke penjara, dan puluhan di antaranya telah divonis hukuman mati, tetapi bisnis ilegal ini dari hari ke hari justru meningkat.

(more…)

LP,Sarang yang Nyaman..

November 25, 2007 By: Ikon Bali Category: Dokumentasi, Kampanye, Penyadaran

Sumber Kompas (24/11/2007)

Oleh Khairina dan CM Rien Kuntari

Di tengah hiruk pikuk upaya pemberantasan narkotika dan psikotropika yang luar biasa, ada satu sudut di negeri ini yang seolah “tak tersentuh” olehnya, yaitu sang bandar atau pengedar. Kenyataannya, mereka hidup sangat subur justru ketika berada di dalam penjara. Setidaknya, begitulah pengakuan satu di antara mereka….

Nama Anton Medan barangkali tetap menjadi nama yang akan tetap tersimpan rapi. Selama hidup, ia tak pernah lepas dari yang disebut penjara. Lebih dari 18 tahun dalam hidupnya ia habiskan dengan masuk keluar penjara. Dari semua sebab, yang terbesar adalah masalah narkoba.

(more…)

Diskresi Kapolri Sesuai HAM

November 21, 2007 By: Ikon Bali Category: Advokasi, Dokumentasi, Kampanye, Penyadaran, Provokasi!

Sumber Jawa Pos

Pemidanaan Anak Pemakai Narkoba Bukan Jalan Terbaik

JAKARTA – Diskresi yang dikeluarkan Kapolri Jenderal Pol Sutanto agar pengusutan anak-anak korban narkoba tidak diperlakukan seperti tersangka disambut positif Jaksa Agung Hendarman Supandji. Dia menegaskan, selaku penyidik, polisi memang memiliki kewenangan diskresi yang bisa menjadi alasan pemaaf dalam penanganan kasus pidana.

Sebagaimana diberitakan kemarin (11/11), sebuah terobosan hukum di bidang pemberantasan narkoba lahir di Gedung Graha Pena Jawa Pos, Surabaya . Sabtu lalu, saat penandatanganan MoU kerja sama antara Grup Jawa Pos dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), Sutanto menginstruksikan agar seluruh jajaran kepolisian tidak serta merta menjadikan anak di bawah umur sebagai tersangka narkoba.

“Saat ini, saya membuat diskresi bahwa para pemakai narkoba, terutama anak-anak, jangan diperlakukan seperti tersangka. Mereka lebih layak disebut korban,” kata Sutanto yang juga kepala BNN tersebut kala itu.

(more…)