Subscribe

Mereka Membeli Tiket Sekali Jalan..

November 24, 2007 By: Ikon Bali Category: Advokasi, Apa Saja, Dokumentasi, Penyadaran

Sumber Kompas (24/11/2007)

Ketika aktor Roy Marten ditangkap di Surabaya karena tersandung kasus narkoba untuk kedua kalinya, kalangan pekerja infotainment ibarat mendapat durian runtuh. File lama dibuka ulang. Sederet nama artis yang sebelumnya berurusan dengan pihak berwajib lantaran terkait kasus serupa didedahkan kembali ke ruang publik.

Akibat gencarnya penayangan kasus narkoba di kalangan artis, muncul kesan bahwa kehidupan para artis sangat dekat dengan obat-obat terlarang. Seolah-olah sebagian besar artis Indonesia adalah pencandu narkoba.

“Padahal jumlah yang terlibat itu kecil sekali. Paling cuma dua persen. Tetapi karena artis tergolong public figur, dan begitu ada yang tersangkut langsung kasusnya disorot selama berhari-hari, di-blow up habis, kesan buruk itu pun tak terelakkan,” kata Anwar Fuady, Ketua Umum Persatuan Artis Sinetron Indonesia (Parsi).

Benarkan demikian? Tak ada yang bisa menjawabnya secara pasti. Karena, seperti diakui oleh Anwar Fuady, para artis yang kemudian kedapatan menggunakan narkoba itu pun cenderung menutup rapat kebiasaan mereka, kecuali (mungkin) pada sesama pengguna. Begitupun setelah mereka lepas dari jeratan hukum, tak ada yang tahu persis seberapa bersih mereka dari ketergantungan narkoba. Bahkan untuk diajak berbincang secara terbuka pun tak jarang mereka menolak.

“Aduuuh… males ah. Aku kan sudah tutup buku,” kata penyanyi Januari Christy. “Enggak, enggak deh, aku enggak mau ngomong soal itu lagi. Tugasku sekarang ngingetin anak-anak saja biar enggak ngulang kesalahan bapaknya,” ujar pelawak Derry Sudarisman ketika dihubungi terpisah, Kamis (22/11) malam.

Menurut Ria Irawan, yang hingga kini mengaku tidak pernah lagi menyentuh ekstasi, kalangan artis mengonsumsi narkoba karena ingin meningkatkan rasa percaya diri dan bagian dari gaya hidup. “Umumnya kalangan artis seangkatanku yang terlibat narkoba mengonsumsi ekstasi. Dibanding jenis narkoba lain, ekstasi di era awal 1990-an sampai pertengahan 1990-an memang lebih kuat dibalut atribut fashion karena umumnya dikonsumsi di diskotek,” papar Ria Irawan.

Kecenderungan penggunaan narkoba di kalangan artis (muda) yang disebutkan Ria tersebut, diakui Anwar Fuady, hingga kini pun masih terjadi. Meski dalam jumlah yang sangat kecil, biasanya artis-artis muda yang terjebak dalam penggunaan narkoba berawal dari kebiasaan menikmati dunia gemerlap alias dugem di tempat-tempat hiburan malam. Tidak semua, memang, tetapi godaan untuk jatuh ke “pelukan” narkoba begitu kuat.

Lain halnya pada artis yang lebih senior, mereka terjerumus lebih karena kekhawatiran akan kehilangan panggung di dunia hiburan. “Rasa khawatir itu selalu ada, bahkan pada bintang besar sekalipun,” kata Anwar.

Dan, begitu dunia narkoba sudah digauli, untuk bisa lepas bukan perkara gampang. Ibarat orang membeli tiket sekali jalan, sulit untuk kembali, kecuali pada orang-orang yang memang terberkati…. (win/ken)

Leave a reply

Comments are closed.